Jumat, 23 Desember 2011

Berbagai Kehidupan Di Kota Jakarta



Jika ingin melihat modernnya kehidupan, hanya ada di kota besar. Jika ingin melihat miskinnya kehidupan juga ada di kota besar. Sesuatu yang sangat kontras menjadi pemandangan biasa dalam keseharian hidup masyarakat kota. Salah satu contoh kota yang sangat dikenal oleh masyarakat dalam negeri yakni Jakarta. Kota yang banyak mendapat julukan, julukan yang bermakna positif dan negatif. Julukan yang bernada optimis dan bernada pesimis. Sebagai kota yang dipercaya untuk menjadi pusat pemerintahan dan segala administrasinya. Juga sebagai kota yang mantap dengan pusat perindustrian dan perdagangan. Hal ini mengundang ketertarikan buat masyarakat banyak untuk mendatanginya.

Banyak orang yang mengira hidup di Kota besar seperti Jakarta akan hidup tenang, makan kenyang dan tidurpun pulas. Perkiraan yang mengungkapkan bahwa lumbung kekayaan mengais rejeki ada di kota ini. Untuk itulah banyak orang berbondong-bondong datang ke Jakarta. Rela untuk meninggalkan sanak saudara, kerabat dan handai tolan, demi merasakan sebuah peruntungan di kota besar.

Bermacam-macam tipe dan karakter manusia bercampur di sebuah tempat yang diyakini memberikan kekayaan harta. Ledakan jumlah penduduk di kota Jakarta tak terlepas dari pemahaman masyarakat luas yang sudah sangat melekat dengan profil Jakarta yang menggiurkan untuk mendatangkan harta dan kenikmatan. Pemahaman tersebut tersebar melalui media informasi mulut ke mulut, membagikannya ke orang-orang terdekat, berlanjut kepada ajakan untuk ikut atau datang ke Jakarta. Belum melihat Jakarta sesungguhnya, banyak orang yang sudah tertarik untuk mendatanginya, karena informasi yang didengar sangat menggiurkan. Namun apa daya bila melihat kehidupan Jakarta sesungguhnya. Mungkin bagi orang yang tidak tahan dengan kehidupan kota, tidak akan bertahan lama dan lekas untuk meninggalkannya. Kota yang tingkat kejahatan tergolong tinggi, hampir setiap hari, disetiap sudut kota akan mendengar dan melihat peristiwa-peristiwa yang selama ini mungkin hanya dilihat dan didengar secara tidak langsung melalui media informasi televisi dan sebagainya.
Bila selama ini kita sering mendengar banyak TKW yang ditipu oleh masyarakat negara asing karena tidak diberikan pekerjaan seperti yang dijanjikan sebelumnya. Tidak usaha jauh-jauh, Jakarta sebuah kota yang identik dengan apa yang dirasakan banyak TKW. Masyarakat yang datang dari daerah dan pelosok negeri berjubel untuk memenuhi tengah, sudut dan pinggiran Jakarta

Layaknya seorang perempuan cantik nan molek selalu mengundang decak kagum siapapun yang pernah merasakan ataupun melihatnya. Baik melalui layar kaca maupun lewat media cetak. Gemerlap lampu yang kelap-kelip dikala malam hari, menambah syahdu tamaram senja di kota jakarta. Seakan-akan menjadi magnet yang luar biasa besarnya terhadap seluruh penduduk di negeri ini untuk mendatangi kota Jakarta  hingga akhirnya menghuni di kota jakarta
Tetapi janganlah Anda hanya terpikat akan indah dan molek tubuhnya saja, karena dibalik kecantikan kota jakarta, tersembunyi berbagai macam penyakit yang akan menjangkiti siapa saja yang tidak siap untuk mengantisipasinya.
Inilah penyakit-penyakit di kota Jakarta :

Kemacetan
          Seolah-olah menjadi hal yang lumrah kemacetan menghiasi ruas jalan Ibukota ini. Coba tengok di pagi hari ataupun sore hari. Jalan raya pun laksana tempat parkir terpanjang di dunia. Angkutan massal yang seakan-akan menjadikan impian semua orang pun seakan-akan tetap jauh dari impian dan anganan

Banjir
          Bulan Januari, identik dengan idiom “Hujan Sehari-hari” yang hingga kini pun masih sahih dalil tersebut. Hampir setiap hari mendung hitam selalu mengelayut di atas awan kota ini. Dampak nyata yang terlihat adalah banjir pun datang tanpa diundang dimana-mana. Hal yang seharusnya bisa diatasi dengan mudah, tapi seolah-olah menjadi susah. Alam pun dijadikan kambing hitam oleh semua pihak.

Kemiskinan
          Kaya dan miskin itu adalah sebuah anugerah. Tidak ada satu orang pun didunia ini yang berkeinginan untuk menjadi orang miskin selama hidupnya, apalagi hingga menurun ke anak cucu. Tetapi kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin yang terjadi di kota metropolitan ini laksana gunung yang tinggi menjulang dan jurang dalam mencekam. Si kaya bisa dengan enaknya menghambur-hamburkan uangnya sekejap saja demi sepotong roti dan secangkir minuman, tapi si miskin pun harus berdiri seharian penuh diperempatan jalan hanya untuk mendapatkan uang recehan tuk bertahan hidup hingga ke esok harinya.

Kriminalitas
          Dimana ada sekumpulan orang yang berinteraksi, disitulah ada kriminalitas yang mengintai. Terminal bus, stasiun kereta api, pasar-pasar bahkan hingga ke gedung-gedung perkantoran pun tidak luput oleh tindakan ini. Jikalau ditempat-tempat umum tindak kriminalitasnya lebih kearah fisik (mencuri, menjambret, menodong, dll) lain halnya yang terjadi di dalam gedung-gedung bertingkat, disini tindak kriminalitas lebih rapi dan licin untuk dilacak siapa saja, termasuk oleh KPK ataupun pihak berwenang dan berwajib lainnya.

Terjebak Rutinitas
          Ritme kehidupan yang serba cepat dan efisien, seakan-akan telah membuat para penghuni ibukota Republik Indonesia ini menjadi sebuah robot, yang mempunyai sistem rutinitas sehari-hari. Mulai dari bangun pagi kemudian menggosok gigi hingga pergi beraktifitas dan kembali lagi tidur di malam harinya. Hal itu terus berulang dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tak terasa umur pun telah habis melakukan rutinitas tanpa kita sadari.

Pemuas Nafsu Komersial
          Sudah menjadi kodrat manusia, yang diciptakan dengan akal dan nafsu. Hampir sama juga dengan umur kehidupan manusia, kebutuhan akan pemuas hawa nafsu pun dibutuhkan laksana makanan dan minuman. Laksana hukum dalam perdagangan, ada permintaan, ada yang menyediakan. Layanan seks komersial, baik yang berkelas hotel berbintang ataupun didalam warung-warung remang pun hadir melengkapinya. Seolah-olah menemani denyut nadi sang malam yang kelam dengan hingar bingar musik dan kerlap-kerlip lampunya. Desahan nafas memburu pun tak mau kalah menggapai puncak awan.

Pola hidup konsumtif
          Menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan, hiperstore hingga toko serba ada yang hampir merata diseluruh pelosok kota Jakarta ini telah mengubah gaya hidup dan tingkah laku masyarakat ibukota. Mulai dari sekedar hanya jalan-jalan refreshing untuk cuci mata sejenak melepas penat hingga ajang kumpul-kumpul dengan sahabat karib ataupun keluarga pun dilakukan didalamnya. Tak lupa belanja kebutuhan sehari-hari ataupun keinginan sesaat juga tersedia lengkap tinggal pilih sesuai selera. Ingat-ingat saja akan isi dompet, solusi instan kartu kredit bukanlah jalan keluar yang bijaksana.

Narkoba dan psikotropika
          Himpitan hidup yang datang bertubi-tubi setiap harinya, membuat para penghuni kota ini stress secara tidak disengaja. Banyak orang yang ingin segera terbebas dari belenggu masalah ataupun problematika yang ada dengan cara instan dengan menggunakan narkoba. Pada awalnya hanya coba-coba atau dalam dosis yang kecil. Tapi ketika hal itu telah menjadi sebuah kebutuhan, malapetaka pun telah menghantuinya. Hanya 2 hal saja akhir cerita dari seorang pengguna narkoba, yaitu : mati atau masuk penjara.
Semoga kita semua, keluarga-keluarga kita, orang-orang yang kita kasihi dan cintai, dapat terhindar akan penyakit-penyakit diatas. Penyakit ini tidak hanya bisa dijumpai di Jakarta saja, tapi hampir dimiliki oleh semua kota-kota besar yang ada di penjuru dunia pun memilikinya. Tentu saja dengan kadar dan komposisi yang berbeda-beda, sesuai dengan taraf hidup dan tingkat kemakmuran dari kota tersebut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar